Perusahaan Waralaba (Franchise)
Waralaba adalah
hak-hak untuk menjual suatu produk atau jasa maupun layanan. Sedangkan
menurut versi pemerintah Indonesia, waralaba adalah perikatan yang salah satu
pihaknya diberikan hak memanfaatkan dan atau menggunakan hak darikekayaan
intelektual (HAKI) atau pertemuan dari ciri khas usaha yang dimiliki pihak
lain dengan suatu imbalan berdasarkan persyaratan yang ditetapkan oleh pihak
lain tersebut dalam rangka penyediaan dan atau penjualan barang dan jasa.
Sedangkan menurut Asosiasi
Franchise Indonesia, yang dimaksud dengan waralaba ialah: Suatu sistem
pendistribusian barang atau jasa kepada pelanggan akhir
dengan pengwaralaba (franchisor) yang memberikan hak kepada individu
atau perusahaan untuk melaksanakan bisnis dengan merek, nama, sistem,
prosedur dan cara-cara yang telah ditetapkan sebelumnya dalam jangka waktu
tertentu meliputi area tertentu.
Roti Bakar Eddy
Membahas tentang inovasi usaha
waralaba Perjalanan Roti Bakar Edi membangun brand dan reputasi bisnisnya memang
tak bisa dibilang sederhana. Konsistensi di sisi rasa, kualitas pelayanan, dan
kenyamanan konsumen menjadi kunci dari eksisnya sebuah brand yang sudah berumur
lebih dari 40 tahun ini. Kini, di tangan generasi kedua, perjalanan Roti Bakar
kian ekspansif membuka cabang dan menjalankan strategi bisnisnya. Walaupun
konsep tenda masih dipertahankan untuk beberapa cabangnya, namun memanjakan
konsumen dengan suasana yang rileks adalah pilihan lain yang dikembangkan.
Seperti terlihat di gerai Cibubur, Depok, dan Pondok Gede yang menggunakan
konsep semi resto.
Hal tersebut dibenarkan
Ariyadi, Owner Roti Bakar Edi yang juga anak keempat dari Edi
Supardi, Founder dan Owner dari Roti Bakar Edi.
Menurutnya, untuk cabang Depok, Cibubur, dan Pondok Gede memang lain manajemen.
“Walaupun sama brand-nya, tapi manajemen berbeda, dan itu memang dipegang oleh
kakak saya kandung saya, dia mau coba buka Roti Bakar Edi sendiri dengan konsep
semi permanen atau semi resto,” katanya.
Sedangkan dirinya yang mengelola
outlet Senayan, Blok M, Warung Buncit dan Pasar Minggu tetap mempertahankan
konsep tenda dengan mengandalkan kenyamanan, kecepatan pelayanan, dan kualitas
rasa yang membuat lidah konsumen terus ingin menikmati roti bakar yang empuk
dan-meminjam istilah Pakar Kuliner Bondan Winarno-maknyusss. Menurut Ariyadi,
kendala dari outlet tenda adalah selalu bongkar pasang. Dan itu, kata
Ari-demikian ia biasanya disapa, sangat merepotkan dan perlu tenaga ekstra
untuk melakukannya.
“Rasa, kualitas pelayanan, dan
kenyaman memang nomor satu di Roti Bakar Edi, jangan sampai makan di berbagai
cabang kita yang lain namun rasanya tidak berubah,” katanya. Namun untuk
menjaga hal tersebut, Ari selalu me-rolling anak buahnya ke semua cabang Roti
Bakar Edi. Tujuannya, kata Ari, agar semuanya terstandar dan konsumen tidak
akan menemukan rasa yang berlainan antara satu cabang dengan cabang yang lain.
Ari mengakui bahwa manajemen yang
ia lakukan dalam mengelola Roti Bakar Edi adalalah manajemen kekeluargaan.
Artinya, dirinya selalu terbuka dengan para karyawan yang ada. “Jika ada
komplain terkait pelayanan dan rasa saya selalu bicarakan kepada mereka,”
katanya.
Ada beberapa divisi yang ada di
Roti Bakar Edi, ada divisi khusus yang membuat buat roti, yang menyajikan
minuman, membakar pisang, dan membakar roti, serta adapu yang khusus mengorder
dari konsumen. “Kami menghargai mereka sesuai dengan keahliannya,” kata Ari.
Untuk outlet yang ada di seberang Masjid Agung Al-Azhar, mempunyai
kapasitas 30 puluh buah meja dengan sekitar 200 bangku. Roti Bakar Edi mulai
beroperasi pada jam 18.00 WIB dan tutup pada pukul 2 atau 3 dinihari.
Terkait dengan perkembangan dunia
online, rupanya Roti Bakar Edi belum ada niat masuk ke dunia online untuk
menyapa dan memaintain pelanggan loyalnya. “Sampai saat ini saya belum ada niat
masuk ke sana, apalagi mau buat facebook dan twitter Roti Bakar Edi, belum ada
rencana ke sana,” katanya.
Target ke depan, jelas Ari,
adalah terus melakukan pengembangan outlet atau jaringan. “Ke depan insya Allah
kita akan tambah cabang baru,” katanya. Biasanya untuk membuka cabang baru, Ari
seringkali mendapat tawaran kerjasama dari customer. “Mereka menawarkan tempat,
kita akan survei, setelah cocok baru kita kontrak atau sewa, namun untuk
pengelolaannya kami lakukan sendiri,” katanya.
Untuk mengontrol semua cabang
yang ada, Ari menempatkan orang-orang kepercayaannya yang bertanggungjawab
terhadap keberlangsungan operasional outlet. jika ada masalah atau apapun yang
terjadi, Ari dan Pak Edi yang akan memanggil penanggungjawab outlet.
Jika faktor penyebabnya adalah
cuaca atau musim hujan, dirinya bisa memaklumi. Adapun bila cuaca biasa saja
namun omset turun berarti ada masalah. Kalau cuaca baik-baik saja tapi kurang
kita akan evaluasi. Saat ditanya soal inovasi menu dan produk, ia menyatakan
jarang melakukannya. Dirinya hanya fokus pada inovasi rasa dan kualitas dari
produk agar tetap sama dan standar.
Saat ini, karyawan Roti Bakar Edi
mencapai 80 orang dengan sistem gaji harian. Hebatnya, karyawan Roti Bakar Edi
banyak yang bertahan sampai 25 atau 20 tahun. “Karena kami selalu mendorong
mereka untuk berfikir terbuka, kalau ada pekerjaan yang lebih baik silahkan
pilih dan mereka pastai bicara ke saya atau ke Bapak, kalau ada yang punya
modal, silahkan buka usaha sendiri,” katanya. Terkait kepuasan pelanggan, bagi
Ari hal itu adalah segalanya.
referensi:
(BAYU WIJAYA / 11113682 / 2KA16)





0 komentar:
Posting Komentar