Berprilaku di dunia maya
Internet sebagai bagian dari
keseharian masyarakat sering dipandang sebagai dunia yang bebas tanpa aturan.
Tidak seperti di dunia nyata, saat berada di dunia maya masyarakat cenderung
lebih bebas berekspresi dan melakukan hal-hal yang mereka inginkan. Tindakan
inilah yang kadang memicu perselisihan antar pengguna di internet. Padahal
sejatinya dunia maya dan nyata sama-sama memiliki seperangkat aturan atau etika
yang harus dipatuhi agar komunikasi dan hubungan antar pengguna terjalin secara
harmonis. Simklah penjelasan singkat tentang etika dalam berperilaku di
internet berikut ini.
Pesan pribadi adalah pesan yang
harus dijawab secara pribadi dan jangan pernah mempostingnya di forum. Sering
kita menemui kasus orang yang menulis isi pesan pribadi di forum padahal
mungkin saja sang pengirim tidak berkenan pesan yang disampaikan secara pribadi
diketahui oleh orang lain. berhati-hatilah dalam menggunkan huruf kapital.
Sudah diketahui bersama bahwa huruf kapital melambangkan kemarahan dan emosi.
Jika anda tidak bermaksud memberi penegasan, sebaiknya hindari huruf capital
karena dapat menyinggung pengguna lain.
Dalam dunia sosial media di internet,
cara untuk berkencan, berpacaran, bahkan perilaku sosial remaja ternyata sangat
dipengaruhi oleh social media. Remaja mudah sekali mengikuti
perilaku teman-temannya di Facebook atau Twitter, demikian menurut studi yang
dilakukan McAfee belum lama ini. Waduh, berabe juga ya? Separah apa sih
pengaruhnya?
Studi ini melibatkan remaja usia 13-17
tahun, dan menemukan bahwa sebanyak 46% dari mereka sangat terpengaruh oleh
internet. Dari mengamati perilaku yang sedang tren di social media, mereka tahu
bagaimana harapan pacar atau teman-teman mereka, sehingga akan berusaha
mengikutinya.
Generasi remaja saat ini seolah hidup di
dua dunia, yaitu dunia nyata dan dunia maya. Keduanya saling mempengaruhi satu
sama lain. Hampir seperempat remaja atau 23% sudah memiliki smartphone
sendiri,dan terkoneksi ke internet. Mereka terhubung ke situs social media
seperti Facebook, Twitter, dan YouTube, nyaris sepanjang waktu. Sebagian besar
remaja kini adalah para “Digital Natives”, yang berarti mereka
terkoneksi dengan teknologi setiap waktu, dan merasa “telanjang” tanpa
teknologi. Maka jangan heran jika hidup mereka sangat tergantung pada
teknologi, termasuk di dalamnya dunia maya.
Para remaja itu merasa tertekan jika
tidak mengikuti tren yang terjadi di dunia maya, terutama masalah perkencanan.
Dunia maya, yakni social media, menjadi semacam “kiblat” ideal bagi remaja
mengenai perilaku berkencan yang asik, pacaran yang keren, dan sejenisnya. Di
social media, banyak remaja yang berbagi pengalaman atau harapan mereka tentang
bagaimana berinteraksi dan gaul yang keren. Maka banyak remaja yang merasa
ketinggalan zaman jika tidak mengikuti pola itu.
Internet antara lain menggambarkan
bagaimana seorang perempuan ingin diberlakukan lawan jenisnya, sehingga para
gadis secara tak sadar mengikutinya. Pengaruh juga tidak mengenal gender, sebab
remaja pria juga mengalami hal serupa. Situs social media seperti
Facebook dapat mendorong remaja berperilaku kebalikan dari dunia nyata. Maka
jangan heran jika menemukan ada remaja yang perilakunya di internet berbeda
dengan di keseharian di dunia nyata.





0 komentar:
Posting Komentar